Warga Banyuwangi Temukan Kolagen dari Sisik Ikan Lemuru, Hasil Penelitian Sudah Hak Paten -->

Iklan Semua Halaman

Warga Banyuwangi Temukan Kolagen dari Sisik Ikan Lemuru, Hasil Penelitian Sudah Hak Paten

14/04/2026

Banyuwangi (jurnalbesuki.com) -Prestasi gemilang kembali diukir oleh anak Bangsa dibidang riset dan penelitian ilmiah. Seorang warga Desa Tembokrejo Kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur Bernama Astuti berhasil menemukan kandungan Kolagen yang terdapat pada sisik ikan Lemuru.


Foto: Ikan Lemuru yang mengandung kolagen(dok.Istimewa)

Secara ilmiah, Astutik berhasil melakukan riset terhadap sisik ikan secara ilmiah dan telah melalui skema pembuktian sehingga sangat bisa dipertanggungjawabkan.


Astutik disebut telah melakukan penelitian tersebut pada tahun 2023 ketika menjalani pendidikan pasca sarjana di ITS. Awalnya, dia merasa sayang ketika melihat tumbukan sisik ikan Lemuru yang dibuang begitu saja dilingkungan tempat tinggalnya. 


Sisik ikan yang dianggap hanya sampah itu menjadi awal langkah Astutik untuk melakukan riset. Rasa eman dan sayang terhadap perlakuan sisik ikan yang dianggap sebagai sampah atau limbah itu mendorongnya untuk mengkaji. 


Sikap dan dorongan untuk meneliti menjadi semakin besar karena data yang diketahui menunjukkan bahwa Muncar merupakan pelabuha ikan terbesar kedua di Indonesia setelah Bagan Siapi-api di Kabupaten Rokan Hilir Propinsi Riau.


Sebelumnya, Ikan Lemuru yang sangat melimpah dipelabuhan Muncar diolah untuk diawetkan dengan proses pengalengan. Karena itu banyak berdiri dikawasan itu pabrik pengolahan ikan. Sementara sisiknya dibiarkan saja terbuang hingga menimbulkan aroma tidak sedap.


Astutik yang saat itu telah menjadi mahasiswa pasca sarjana di ITS kemudian melakukan langkah-langkah untuk penelitian. Hasil sementara dari penelitiannya menunjukkan ternyata pada sisik ikan masih terdapat kandungan-kandungan yang bisa diolah sebagai produk baru yang mengandung nilai ekonomi.


"Sisik ikan lemuru mengandung kolagen yang cukup tinggi dan asam amino yang begitu komplek dimana sangat dibutuhkan untuk kebutuhan bahan baku farmasi medis, kesehatan kulit, sendi, dan jaringan tubuh," papar Astutik.


Hasil uji laboratorium menunjukkan kandungan dengan kualitas tinggi dan sangat berpeluang untuk bersaing di pasar global.


Mengingat Indonesia adalah negara maritim yang 70 persen luas wilayahnya adalah laut.


Namun sangat disayangkan bahwa Indonesia justru mengimpor kolagen dari negara lain.


"Riset dan temuan kami ini sejalan dengan semangat Pak Prabowo bahwa sampai hari ini kita masih kekurangan protein laut dan perlu untuk di kembangkan," ulasnya.


Dari segi pasar, permintaan kolagen laut (marine collagen) global diproyeksikan tumbuh 6,7 persen per tahun (2023–2030) sesuai rilis Globenewswire 2024.


Negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab bersedia membayar premium hingga ratusan juta rupiah/kg untuk kolagen berkualitas.


"Sayangnya produk kolagen lokal Indonesi masih kurang kompetitif akibat terbatasnya sertifikasi internasional dan inovasi berbasis ilmiah," terang ibu tiga anak yang salah satunya studi di Mesir.(rubic/hans)