jurnalbesuki.com - Penemuan menghebohkan kalangan ilmuwan Al-qur'an berupa manuskrip lama yang diperkirakan dibuat pada abad ke 4 Hijriah di Saudi Arabiya baru-baru ini. Manuskrip langka itu setelah diteliti berjudul "Kata-kata Unik Alqur'an" yang ditulis oleh seorang ulama pada abad tersebut yang bernama Abu Ubaidah bin Almutsanna.
![]() |
| Foto : ilustasi al-quran (dok. Istimewa) |
Ditemukannya manuskrip kuno itu dipastikan akan menjadi salah satu khazanah baru dalam dunia keilmuan islam sehingga bisa lebih mendalam dalam mengungkap rahasia-rahasia kitab suci ummat islam tersebut.
Dengan demikian, penemuan manuskrip itu tidak hanya sekedar menambah koleksi naskah kuno sajaa, melainkan juga untuk membuka diskursus baru tentang bagaimana generasi awal islam bisa memahami istilah atau kata yang tidak lazim dalam alquran.
Abu Ubaidah sendiri merupakan tokoh dikenal sebagai salah satu raksasa intelektual dalam tradisi bahasa Arab klasik. Beliau hidup pada abad ke-2 Hijriah dan disebut sebagai orang yang berasal dari Basrah, pusat keilmuan bahasa dan sastra Arab pada masa itu.
Prestasi dan reputasinya diakui telah melampaui zamannya. Lebih dari itu tokoh seperti Al-Jahiz pernah memujinya dengan ungkapan terkenal, “Tidak ada seorang pun di bumi yang lebih berpengetahuan dalam semua ilmu daripada dia”.
Sebagai tokoh yang dikenal luar biasa, produktivitasnya luar biasa, lebih dari 200 karya ditulisnya, mencakup berbagai disiplin: dari sastra, sejarah Arab, hingga tafsir linguistik Alquran. Karya-karyanya seperti Majaz al-Qur’an, Ma‘ani al-Qur’an, hingga I‘rab al-Qur’an menunjukkan satu benang merah: perhatian serius pada bagaimana bahasa wahyu bekerja, terutama pada kata-kata yang tidak mudah dipahami secara langsung, sebagaimana diberitakan Al Arabiya.
Penemuan manuskrip ini menjadi semakin penting karena tersimpan dalam jaringan koleksi besar di Perpustakaan Umum Raja Abdulaziz, yang dikenal memiliki ribuan manuskrip tafsir dan ilmu Alquran. Di dalamnya terdapat karya-karya penting lain seperti tulisan Abu Ishaq al-Zajjaj tentang tata bahasa Alquran, karya Ibn Qutaybah tentang ayat-ayat sulit, hingga bagian dari Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an karya Al-Tabari. Seluruhnya memperlihatkan bahwa sejak awal, umat Islam telah membangun tradisi ilmiah yang serius untuk memahami bahasa Alquran secara mendalam.
Dari sinilah kemudian lahir satu cabang ilmu yang dikenal sebagai gharā’ib al-Qur’an, kajian tentang kata-kata unik dalam Alquran yang tidak umum digunakan dalam bahasa Arab sehari-hari.
Pada fase awal, pendekatan yang digunakan bersifat riwayat: para ulama merujuk pada penjelasan sahabat, tabi’in, serta syair Arab kuno untuk memastikan makna sebuah kata. Pendekatan ini mencerminkan kehati-hatian, bahkan kerendahan hati intelektual generasi awal dalam menghadapi teks wahyu.
Namun, seiring perkembangan zaman, kajian gharā’ib mengalami perluasan metodologis. Al-Rāghib al-Aṣfahānī melalui Al-Mufradāt fī Gharīb al-Qur’ān mulai mengkaji kata berdasarkan akar makna dan variasi penggunaannya dalam berbagai ayat.
Ia tidak sekadar menjelaskan arti, tetapi juga menelusuri nuansa semantik yang halus, membuka jalan bagi pendekatan yang lebih filosofis terhadap bahasa Alquran.(republika/hans)

Komentar