Surabaya (jurnalbesuki.com) - Penetapan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang Jawa Timur sebagai tempat pelaksanaan Muktamar Nadhlatul Ulama (NU) ke 35 disambut positif oleh pada ulama terutama yang berasal dari Jawa Timur.
![]() |
| Foto: KH. Abdussalam Shohib Pengasuh PP. Mambaul Ma'arif Jombang.(dok.tribun) |
Salah satu alasan mengapa para kyai dan masyayikh menyambut baik keputusan melakukan Muktamar NU di Tambak Beras adalah karena Ponpes Bahrul Ulum merupakan Pesantren tertua di Jombang.
Salah satu tokoh dan pengasuh Ponpes yang memberikan komentar positif terkait pelaksanaan Muktamar NU di PP. Bahrul Ulum Tambak Beras adalah KH. Abdussalam Shohib yang akrab disapa dengan panggilan Gus Salam.
Gus Salam yang merupakan Pengasuh Ponpes Mambaul Ma'arif Jombang itu menyatakan bahwa Bahrul Ulum merupakan tempat paling ideal untuk pelaksanaan Muktamar yang rencananya akan digelar bulan depan yaitu bulan Agustus 2026.
"Ini pondok pesantren tertua di Jombang, pantas bila Muktamar NU dilakukan di Tambakberas. Tambakberas itu gurunya Tebu Ireng, gurunya Denanyar," kata Gus Salam sebagaimana dilansir detik, Senin (13/7/2026).
Menurut Gus Salam, penunjukan Ponpes Tambakberas ternyata tidak diputuskan dengan mudah. Di balik keputusan tersebut, terjadi dinamika panjang dan tarik ulur yang cukup tajam di tubuh PBNU.
Mantan Wakil Ketua PWNU Jatim ini mengungkap penetapan Tambakberas merupakan jalan tengah yang lahir setelah berbagai opsi lokasi diperdebatkan dalam rapat gabungan PBNU.
"Penunjukan Ponpes Tambakberas saya kira sebuah solusi dari dinamika yang terjadi dalam penentuan tempat maupun waktu Muktamar," ujarnya.
"Hingga malam menjelang keputusan diambil, setidaknya ada tiga lokasi yang menguat menjadi calon tuan rumah. Yakni Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Jakarta. Bahkan, Jakarta sempat menjadi kandidat terkuat. Menurut informasi yang kami terima, dinamikanya lumayan tajam. Sebenarnya malam itu yang menguat tiga, Lirboyo, NTB, sama Jakarta. Bahkan menjelang penentuan yang menguat Jakarta," bebernya.
Namun, Gus Salam menyebut rapat yang berlangsung sejak siang hingga sore hari itu belum juga menghasilkan keputusan. Bahkan rapat sempat diskors untuk memberikan ruang komunikasi antara Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf.
"Katanya ada pertemuan khusus antara Rais Aam dan Ketua Umum. Selama dua jam juga belum diputuskan. Bahkan sempat ada wacana penentuannya diperpanjang besok," ungkapnya.
"Peserta rapat berharap malam itu juga harus diputuskan. Karena sudah ditunggu PWNU dan PCNU se-Indonesia. Kalau dimundurkan lagi dikhawatirkan muncul ketidakpercayaan apakah Muktamar benar-benar akan terlaksana," tambahnya.
Di tengah kebuntuan tersebut, Tambakberas akhirnya muncul sebagai pilihan yang disepakati. Keputusan itu, kata Gus Salam, cukup mengejutkan banyak pihak, termasuk dirinya.
"Pada akhirnya disepakati di Tambakberas dan itu agak surprise juga bagi semua pihak, apalagi saya. Tapi surprise yang menggembirakan. Loh, ini kok di rumah saya," katanya.
Gus Salam menilai keputusan tersebut sangat tepat. Selain menjadi pesantren tertua di Jombang, Tambakberas juga memiliki hubungan historis yang sangat kuat dengan lahirnya NU maupun perkembangan pesantren besar di Kota Santri tersebut.(detik/hans)

Komentar