Jakarta (jurnalbesuki.com) - Pengamat Politik Ayib Tayana menilai maraknya serangan kepada Prabowo Subianto di media sosial akhir-akhir ini bukan menunjukkan nilai kritik namun sudah merupakan penghinaan. Berbagai konten negatif yang bermunculan lebih mengarah kepada serangan menjatuhkan martabt dan kepribadian Prabowo.
![]() |
| Foto: Presiden RI H Prabowo Subianto.(dok.istimewa) |
Ayib menyebut serangan itu sudah termasuk penyematan yang dikenal dengan istilah Narcissistic Personality Disorder (NPD). Dengan kata lain serangan dari konten-konten tersebut buka bagian dari kritik yang membangun akan tetapi penghinaan pribadi.
Meskipun kebebasan berpendapat adalah sesuatu yang dijami Undang-undang namun tidak selayaknya daya kritik yang dimunculkan bergeser menjadi ajang penghinaan. Kritik seharusnya menyasar pada kebijakan atau tindakan Prabowo sebagai presiden. Bukan sekedar membuat konten yang justru mendorong kemarahan publik tanpa argumentasi mendasar dan bertanggung jawab.
"Banyak sekali konten yang nilai tanggung jawabnya tidak nampak. Disana tidak ada argumentasi, tidak juga tanggung jawab, dan yang digunakan hanya untuk menimbulkan emosi, dan menyulut kemarahan saja," ujar Ayin Tayana dalam keteranganya dilansir republika di Jakarta kemarin.
Ayip menyoroti bahwa konten-konten bernada negatif dan emosional justru mendapatkan interaksi tinggi di masyarakat. Hal ini, menurutnya, harus diluruskan di tengah arus informasi yang serba cepat karena media sosial dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
"Di Indonesia, kalau konten yang nadanya negatif ataupun emosional dan kemudian menyerang kelompok politik tertentu itu cenderung memperoleh engagement yang tinggi. Jangan lah sampai hal-hal seperti itu malah berlarut-larut," ucapnya.
Ia menilai fenomena tersebut memang ramai di media sosial, tetapi tidak merepresentasikan keseluruhan pandangan masyarakat. Dari sisi legitimasi politik maupun penilaian mayoritas masyarakat, kondisinya justru sebaliknya.
Presiden Prabowo terpilih dengan legitimasi yang sangat kuat, yaitu menang dengan dukungan 58 persen suara masyarakat Indonesia dalam satu putaran melawan dua kandidat lainnya. "Secara elektoral dan konstitusional, Pak Prabowo menang 58 persen dengan sekali putaran. Itu legitimasinya kuat sekali," katanya.
Tingkat kepuasan terhadap Presiden Prabowo juga dinilai tinggi. Berdasarkan survei Poltracking terbaru, 74,2 persen publik percaya dengan pemerintahan Presiden Prabowo dan 72,2 persen puas dengan kinerja pemerintah.
"Artinya, berbagai hasil survei ini dapat dijadikan indikator bahwa dukungan dan kepercayaan publik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo ini masih berada di tingkat mayoritas," ucap Ayip.(rep/hans)

Komentar