Musim Kemarau di Banyuwangi, 11 Titik Sumber Air Alami Penurunan Debit Hingga 30 Persen -->

Iklan Semua Halaman

Musim Kemarau di Banyuwangi, 11 Titik Sumber Air Alami Penurunan Debit Hingga 30 Persen

04/08/2026

Banyuwangi (jurnalbesuki.com) - Terjadinya musim kemarau yang cenderung ekstrim di tahun 20206 berdampak serius bagi ketersediaan sumber air baku di Kabupaten Banyuwangi. Meski belum sampai pada tahap krisis namun penyusutan terpantau telah mencapai 30 persen akibat lama tidak turun hujan.


Foto: ilustrasi kondisi akibat kekurangan air.(dok.istimewa)

Penyusutan debit air tersebut terjadi pada 11 titik sumber mata air yang selama ini menjadi sumber andalan untuk pengadaan air baku di wilayah paling timur pulau jawa tersebut. 


Pemerintah Kabupaten Banyuwangi secara serius mengamati kondisi perubahan dan penurunan debit air yang terjadi. Melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang bekerja dengan Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PUDAM) Banyuwangi terus melakukan pemetaan dan memantau kondisi sumber air yang berrada dalam pengelolaannya.


Kepala BPBD Kabupaten Banyuwangi, Pentana menyebut penurunan debit air yang paling menghawatirkan terjadi pada sumber air yang berlokasi di Kecamatan Glagah dan Licin. 


“Validasi terakhir yang kami lakukan bersama dengan Direktur PUDAM terdapat 11 titik sumber mata air yang di bawah koordinatornya itu PUDAM Banyuwangi yang mengalami pengurangan sampai 30 persen,” ujarnya.


Dijelaskan, penurunan itu sampai saat ini masih belum pada tahap mengganggu kebutuhan air minum masyarakat. Tetapi sudah berpotensi mengganggu berbagai sektor kehidupan masyarakat seperti pertaanian yang sangat bergantung paa ketersediaan air.


Sebagai langkah antisipasi, BPBD Banyuwangi telah berkoordinasi dengan sejumlah organisasi perangkat daerah untuk menyusun kajian teknis dalam menghadapi musim kemarau. Kajian tersebut mencakup pengelolaan sumber daya air, termasuk penentuan batas pemanfaatan embung dan sungai yang selama ini menjadi sumber pengairan lahan pertanian.


Selain itu, BPBD juga meminta dinas terkait melakukan rekayasa pola tanam agar petani dapat mengurangi risiko gagal panen selama musim kemarau. Langkah tersebut di antaranya dengan menyesuaikan jadwal tanam serta menggunakan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kekurangan air.


“Terkait lahan pertanian kami sudah meminta dinas terkait untuk segera melakukan rekayasa terkait dengan musim tanam. Khususnya penentuan bibit-bibit unggul yang di situ tentunya bisa tahan air dan bisa panen lebih awal. Harapannya dalam masa kemarau panjang ini untuk petani itu tidak mengalami gagal panen,” kata Partana.(bjc/hans)