Situbondo (jurnalbesuki.com) - Polusi udara yang terjadi di sekitaran Pabrik Gula (PG) Panji Kabupaten Situbondo yang sudah beberapa waktu dikeluhkan warga saat ini sudah berkurang signifikan setelah pihak manajemen PG mengoperasikan alat penangkap debu atau Wet Dust Collector dan Rutin melakukan penyemprotan air.
![]() |
| Foto: Polusi udara di kawasan PG Panji berkurang.(dok.memorandum) |
Sebelum Alat Penangkap Debu dioperasikan, warga mengeluhkan tercemarnya udara dan tolato (sisa pembakaran) yang beterbangan hingga masuk ke pemukiman warga, bahkan mask ke dalam rumah. Namun kini tingkat polusi sudah berkurang banyak dan udara sekitar pabrik pengolahan tebu itu diakui lebih bersih.
Manager Teknik PG Panji, Bahtiar Yudistira menyatakan pihaknya akan terus mengoptimalkan penggunaan Wet Dust Collector itu karena ternyata terbukti bisa menyelesaikan keluhan warga akibat operasionalisasi Pabrik Gula Panji.
"Wet Dust Collector atau alat penangkap debu yang merupakan sisa hasil pembakaran PG Panji ini ternyata mampu mengurangi polusi Tolato yang dikeluhkan warga," ujar Bahtiar, Sabtu (08/08/20206).
Menurut Bahtiar, alat ini berfungsi untuk menangkap abu sisa hasil pembakaran yang beterbangan diudara dengan melalui sistim penyemprotan air. Abu yang tertangkap kemudian dialirkan menuju bak pengendap lalu diangkut ke penampungan.
"Alat penangkap abu hasil pembakaran ketel ini, di dalamnya ada spray air untuk menangkap abu dan air," imbuhnya.
Perangkat pengendali emisi tersebut beroperasi setiap hari. Tenaga mekanik ketel juga melakukan pemeriksaan secara rutin untuk memastikan alat bekerja dengan baik selama proses produksi gula berlangsung.
"Hasil tangkapan abu kita alirkan ke bak pengendap. Setiap hari ada sekitar 40 ton abu, lalu diangkut ke tempat penampungan kami," katanya.
Saat ini, kondisi tolato di sekitar PG Panji jauh lebih terkendali dibandingkan sebelumnya. Pengoperasian alat penangkap abu terbukti mampu mengurangi sebaran debu ke lingkungan sekitar pabrik tebu.
"Tolatonya nyaris tidak ada. Biasanya kalau sudah musim giling mata saya sering terkena abu tolata, saat ini nyaris tidak ada," aku Salim, salah seorang tukang becak yang mangkal di sekitar PG Panji.
Sementara itu, seorang warga sekitar pabrik bernama Ahmad, mengonfirmasi bahwa kondisi udara saat ini jauh lebih bersih dibandingkan dengan sebelumnya. Menurutnya, pengendalian debu sangat krusial agar operasional pabrik tidak mengorbankan kenyamanan warga.
"Saat ini tolato yang beterbangan sudah berkurang jauh. Kami berharap optimalisasi alat penangkap debu dan penyiraman ini terus konsisten dilakukan agar abu tidak masuk ke permukiman," ujar Ahmad, Sabtu 8 Agustus 2026.
Bagi warga, masalah abu ini bukan sekadar dampak operasional biasa, melainkan ancaman kenyamanan lingkungan. Terutama saat cuaca panas dan angin kencang, material abu yang mengering sangat mudah terbang ke permukiman.(ary/hans)

Komentar