Sebabkan Polusi Udara dan Keluhan Warga, Dinas LH Situbondo Awasi Ketat PG Asembagus -->

Iklan Semua Halaman

Sebabkan Polusi Udara dan Keluhan Warga, Dinas LH Situbondo Awasi Ketat PG Asembagus

30/07/2026

Situbondo (jurnalbesukicom) - Terjadinya polusi udara di kawasan sekitar Pabrik Penggilingan Tebu Asembagus Situbondo dikeluhkan warga. Sejak musim giling di Pabrik Gula (PG) Asembagus tahun 2026 dimulai, udara tercemari penyebaran debu sisa pembakaran yang beterbangan dan mengganggu pandangan hingga pernafasan. 


Foto: Penyemprotan dengan untuk atasi polusi karena debu sisa pembakaran.(dok.memo)

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Situbondo, Sandy Hendrayono menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan tindakan kongkrit sebagai respon dan solusi dari keluhan warga yang merasa terganggu akibat kondisi tersebut. Kini DLH terus melakukan pendampingan intensif agar manajemen pabrik terus melakukan perbaikan untuk menekan dampak lingkungan.


Menurut Sandy, Pihaknya sudah melakukan pengawasan terhadap aktifitas penggilingan bahan dasar gula di PG Asembagus sejak musim produksi tahun 2026 dimulai. 


Pemantauan dan koordinasi itu semakin gencar dilakukan saat penyebaran debu sisa pembakaran yang biasa disebut Tolato itu muncul dan menjadi keluhan masyarakat sekitar. Tolato itu menjadi penganggu bagi masyarakat terutama ketika angin bertiup kencang.


"Namun tantangan yang terjadi disetiap tahun banyak berbeda. Tahun ini kami mendampingi PG Asembagus sejak awal giling dan mengevaluasi seluruh upaya perbaikan perusahaan secara berkala," ujar Sandy, Kamis (30/07/2026).


Sandy menjelaskan, pihak pabrik saat ini belum bisa mengganti seluruh peralatan pengendali emisi secara total karena terkendala proses pengadaan. Meski demikian, PG Asembagus telah mendatangkan komponen discharge electrode untuk mendongkrak kinerja alat pengendali emisi saat ini. Pemasangan komponen baru tersebut dijadwalkan segera setelah musim giling selesai agar tidak mengganggu operasional produksi.


"Komponennya sudah siap di lokasi. Begitu musim giling usai, alat tersebut langsung dipasang untuk menyempurnakan sistem pengendali emisi," tambahnya.


Tim DLH Situbondo juga rutin turun ke lapangan hampir setiap hari, termasuk pada malam hari. Pengawasan malam sengaja dilakukan untuk menindaklanjuti laporan warga yang mengeluhkan peningkatan volume tolato pada jam-jam tertentu.


"Kami tidak hanya memantau siang hari. Begitu ada laporan dari masyarakat mengenai kondisi malam hari, petugas langsung mengecek situasi lapangan dan memastikan perbaikan teknis tetap berjalan," tambah Sandy.


Berdasarkan hasil monitoring terakhir dan dialog langsung dengan warga sekitar, intensitas penyebaran tolato kini dilaporkan mulai menurun setelah pabrik melakukan penyesuaian sistem pembakaran.(memo/hans)