Banyuwangi (jurnalbesuki.com) - Para Nelayan yang beraktifitas disekitaran Selat Bali diminta untuk meningkatkan kewaspadaan dan kehati-hatian karena gelombang tinggi ganas sedang terjadi dan angin kencang akan terjadi dibeberapa waktu kedepan.
![]() |
| Foto: ilustrasi gelombang Laut berbahaya.(dok.istimewa) |
Peringatan itu dikeluarkan oleh Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas II Banyuwangi, Yudi Nugraha setelah mengamati kondisi alam sekitar selat dan kecenderungan selama bulan Juli. Menurutnya, saat ini Selat Bali memasuki periode tahunan Gelombang Sedang hingga tinggi yang bisa terjadi di bulan Juni -Juli dan Agustus (JJA).
Kondisi perairan Selat Bali semakin mengkhawatirkan dan mengancam para Nelayan karena adanya gangguan gelombang dari Samudera Hindia yang bergerak dari selatan Pulau Jawa menuju Selat Bali.
"Pada bulan Juli hingga memasuki Agustus ini, tinggi gelombang diperkirakan akan semakin meningkat dibandingkan bulan-bulan sebelumnya," terang Yudi, kamis (30/07/2026).
Yudi mengungkap, tinggi gelombang saat ini di Selat Bali berpotensi bisa mencapai ketinggian antara 1,2 hingga 2 meter. Gelombang tinggi juga beresiko terjadi di perairan wilayah Selat Bali bagian selatan hingga disekitar kawasan Taman Nasional Alas Purwo.
Sementara untuk jalur penyeberangan Ketapang-Gilimanuk, kondisi gelombang saat ini masih berada dalam batas yang memungkinkan kapal feri tetap beroperasi.
Namun, pelaku pelayaran tetap diminta mewaspadai perubahan kondisi laut yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
"Untuk lintas penyeberangan, tinggi gelombang berdasarkan pantauan saat ini bisa mencapai 1,2 meter. Masih kondusif untuk penyeberangan menggunakan kapal feri," ujarnya.
Cuaca Ekstrem Sebabkan Penyeberangan 2 Kali Buka-Tutup
Sementara itu, akibat cuaca ekstrem yang terjadi beberapa waktu lalu, penyeberangan Ketapang-Gilimanuk mengalami buka tutup pada Selasa (28/7/2026) sebanyak dua kali dan Rabu (29/7/2026) yang berdampak pada aktivitas pengguna jasa di jalur penghubung Pulau Jawa Bali tersebut.
General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Ketapang Arief Eko Kurniansjah mengatakan, hingga saat ini operasional kapal masih sangat bergantung pada perkembangan cuaca maritim.
Karena itu, layanan dapat dibuka maupun ditutup sewaktu-waktu berdasarkan hasil pemantauan di lapangan dan rekomendasi otoritas. "Keselamatan selalu menjadi prioritas utama dalam setiap layanan penyeberangan," kata Arief.
Penyesuaian operasional dilakukan disebutnya sebagai langkah mitigasi risiko ketika kecepatan angin maupun tinggi gelombang belum memenuhi standar keselamatan pelayaran.
"Begitu kondisi membaik dan dinyatakan aman oleh otoritas, layanan akan kembali dioperasikan secara bertahap," tambahnya.(kpas/hans)

Komentar