Kesehatan (jurnalbesuki.com) - Kementerian Kesehatan RI merilis data yang menyebut bahwa sekitar 90 persen pengidap dan penderita penyakit Hepatitis di Idonesia tidak menyadari kalau dirinya telah terinfeksi virus yang berbahaya bagi kesehatan bahkan keselamatannya.
![]() |
| Foto: Ilustrasi penyakit hepatitis B dan C pada manusia.(dok.cnbc) |
Pernyataan itu diungkap Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Kemenkes RI dr Andi Saguni MA.
"Perlu menjadi catatan penting kita bersama bahwa 90 persen orang yang menderita penyakit hepatitis tida mengetahu kalau dirinya terinfeksi virus hepatitis tersebut," ujar Andi ketika temu media Hari Hepatitis Sedunia 2026, kemarin (27/07/2026)
Menurut Andi, Hepatitis B dan C adalah jenis penyakit yang disebabkan virus dan bisa berkembang tanpa gejala hingga pengidap atau penderita sampai mengalami sirosis dan kanker hati bahkan bisa menyebabkan kematian.
Kondisi demkian tentu saja menjadi tantangan besar bagi keberlangsungan kesehatan masyarakat ditengah upaya pemerintah menekan dan mengeliminasi hepatitis di Indonesia pada tahun 2030 mendatang.
Penyakit Hepatitis secara medis adalah penyebab utama terjadinya penyakit sirosis dan kanker hati pada manusia. Data Kemeskes RI menyebutkan Indonesia merupakan rangking keempat dunia dengan jumlah kasus terinfeksi Hepatitis B terbanyak dunia.
Sedangkan untuk infeksi hepatitis C, Indonesia menempati Rangking keenam terbesar dunia dengan prevalensi hepatitis B mencapai 4,3%, sedangkan hepatitis C sebesar 0,4%.
"Untuk mencapai target eliminasi hepatitis pada 2030, Kemenkes mengandalkan empat strategi utama, yakni pencegahan, penemuan kasus dan surveilans, penanganan kasus, serta promosi kesehatan perilaku hidup sehat," terang Andi.
Salah satu langkah yang terus diperkuat adalah vaksinasi hepatitis B pada bayi baru lahir, skrining ibu hamil, serta perluasan akses pemeriksaan dan pengobatan hepatitis. Selain itu, sejak 2025 pemerintah juga mulai mengintegrasikan pemeriksaan hepatitis B dan C ke dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk meningkatkan deteksi dini di masyarakat.
Meski demikian, Andi mengakui masih terdapat sejumlah tantangan. Salah satunya adalah cakupan pemeriksaan hepatitis pada ibu hamil yang belum optimal. Hingga 2025, baru sekitar 71,6% ibu hamil yang telah menjalani pemeriksaan hepatitis B, dengan 1,36% di antaranya dinyatakan reaktif.
"Cakupan pemeriksaan di sejumlah wilayah Indonesia Timur juga masih relatif rendah dibanding daerah lain," katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Komite Ahli Hepatitis Kemenkes Prof. David Handojo Muljono mengatakan Indonesia sebenarnya telah menunjukkan kemajuan dalam pengendalian hepatitis B. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi hepatitis B pada seluruh kelompok usia turun menjadi 2,4%, sedangkan pada balita hanya 0,1%.(cnbc/hans)

Komentar