Jember (jurnalbesuki.com) - Alunan merdu pembacaan al-qur'an mengalun di halaman komplek YPI. Nurul Halim Dusun Pondok Jeruk Desa Wringinagung Kecamatan Jombang Kabupaten Jember, Jumat (10/04/2026). Para Hafidz al-qur'an yang alumni Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo secara bergantian melafalkan ayat demi ayat kalam ilahi.
Setiap pelafal yang mengalunkan ayat-ayat alqur'an dilakukan tanpa memegang atau membaca mushaf (buku teks al-qur'an). Dimulai oleh koordinator, Kyai Suparman sebagai pembukaan, lalu dilanjutkan oleh pelafal yang lain.
Prosesi itu sebagai penanda bahwa kegiatan dan acara Haul KH. Moh. Hasan bin Syamsudin secara resmi dimulai. Informasi yang diperoleh, kegiatan haul itu digelar oleh para alumni dan santri Pondok yang didirikan KH. Moh Hasan setiap bulan syawal dan merupakan agenda tahunan.
"Tahun ini adalah haul yang ke tujuh puluh tiga (73-red). seperti biasa proses diawali dengan khataman al-qur'an dan nanti malam ditutup dengan acara pengajian umum yang akan langsung dihadiri oleh almukarrom KH. Muhammad Hasan Mutawakkil Alallah sebagai pengasuh Pondok Genggong yang sekarang," ujar Imron Rosyadi, Ketua Tanaszaha Cabang Jember.
Kyai Mutawakkil dipastikan akan hadir langsung ke acara Haul tersebut. Selain itu, Bupati Jember H. Muhammad Fawait juga terkonfirmasi akan hadir.
Sementara, para tamu yang terdiri dari para alumni yang berasal dari berbagai desa di Kabupaten Jember nampak sudah mulai berdatangan. "Semoga sampai kegiatan berakhir, teman-teman alumni dan pra santri Genggong bisa hadir secara maksimal untuk memeriahkan acara ini," ujar Imron.
sementara, data dari laman wikipedia menyebutkan : KH Moh. Hasan Genggong atau lebih dikenal Hasan Genggong selengkapnya Muhammad Hasan bin Syamsuddin bin Qoyiduddin Al Qodiri Al Hasani (nama lain: Kyai Hasan Sepuh, lahir di Sentong, Krejengan, Probolinggo, 27 Rajab 1259 Hijriyah / 23 Agustus 1843 Masehi - meninggal di Genggong, 11 Syawal 1374 hijriyah / 1 juni 1955 masehi) adalah seorang guru sufi yang terkenal sebagai salah satu Mursyid Thoriqoh Naqsyabandiyah. Beliau salah satu Mursyid dari tatanan Naqsyabandi dan pendiri Tarekat Naqsyabandiyah Ali Ba 'Alawiyah yang merupakan cabang dari tarekat Naqsyabandiyah yaitu perpaduan dari dua buah tharekat besar, penyatuan dua sanad tarekat, yaitu Thariqah Naqsyabandiyah dan Thariqah Ali Ba 'Alawiyah, Beliau juga terkenal sebagai salah satu Wali Qutb di Indonesia.
Beliau merupakan seorang Ulama dari para Wali dan seorang Wali dari para Ulama. Beliau Pemilik Pengetahuan Yang Sempurna ('Arif kamil) dalam sufisme dan marifat. Ia dianggap sebagai Sumber Mata Air Kemursyidan, Berkahnya menembus seluruh ummat di masanya.[1] Ia adalah Spiritualis Berdirinya Nahdlatul Ulama.
Dari keinginan belajarnya yang tinggi, beliau menyebabkan ilmu-ilmu gaib dan rahasia menjadi tampak. Beliau adalah puncaknya Matahari Pengetahuan Eksternal dan Internal di zamannya. Ia bergelar Al-Arifbillah dengan Salah satu tanda keajaibannya adalah karomah yang mahsyur, yang merupakan hatinya ke maqam ulama dari para ulama. Bagaikan Mawar dalam hal Karakter dan Atribut Rasulullah, mencapai maqam yang tertinggi dari Pohon Lote terjauh atau Sidrat al-Muntahā, yang disebut sebagai "Pohon Kehidupan", penunjuk jalan menuju Singgasana Utama, pemilik rahmat, guru yang memiliki rahasia nafas suci Tuhan. Dia adalah guru besar dalam thariqat, pendiri haqiqat (Realitas), and pembimbing bagi khaliqa (Ciptaan). Beliau diakui sebagai guru besar para wali di zamannya, yang menyandangkan ucapan, “Wali dari Guru besar adalah Guru Besar bagi para Wali” terhadap beliau. Para ulama yang menguasai hikmah spiritual banyak yang menggali dari ladang ilmunya, adalah seorang ulama Indonesia yang terkenal.
Beliau adalah Kholifah kedua Pesantren Zainul Hasan Genggong dan intelektual yang produktif menulis kitab, yang meliputi bidang-bidang fiqih, tauhid, tasawuf, tafsir, dan hadits. Salah satu karyanya adalah kitab Nadham Safinatun Najah dan yang paling monumental adalah Aqidatut Tauhid. Dia berasal dari keluarga Wali Songo dari marga Al Qodiri Al Hasani yang merupakan keturunan dari Sultanul Awliya al-Quthub al-Kabir Syekh Abi Muhammad Muhyidin Abdul Qadir al-Jailani, keturunan Hasan bin Ali, dia menerima sebagian besar pendidikan sufi awal dari gurunya, Syekh Jazuli. Dia dilatih dalam semua perintah tasawuf dan diberi izin untuk memulai dan melatih pengikut dalam Tarekat Naqshbandi. (hans)

Komentar