Antisipasi Penurunan Produksi Kopi, Bondowoso Siapkan Peremajaan Sekitar 1.700 Hektare Lahan -->

Iklan Semua Halaman

Antisipasi Penurunan Produksi Kopi, Bondowoso Siapkan Peremajaan Sekitar 1.700 Hektare Lahan

30/07/2026

Bondowoso (jurnalbesuki.com) - Merosotnya hasil produksi kopi di Kabupaten Bondowoso Jawa Timur menjadi sorotan dan kekhawatiran tersendiri bagi banyak kelangan terutama yang berkepentingan dengan keberadaan kopi tersebut. Pasalnya, selama ini Bondowoso dikenal sebagai lahan dengan hasil produksi kopi yang memiliki cita rasa khas dan luar biasa.


Foto: Pohon Kopi.(dok.istimewa)

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Bondowoso saat ini tengah menyiapkan berbagai langkah untuk menahan kemerosotan dan penurunan hasil produksi kopi yang telah menjadi ikon daerah itu. Apalagi berdasarkan hasil evaluasi panen di tahun 2026 penurunan semakintajam akibat faktor cuaca.


Kepala DPKP Bondowoso, Mulyadi menyatakan penurunan produksi kopi terutama pada tahun 2026 sangat dipengaruhi oleh pola musim yang cenderung tidak bagus untuk komoditas tanaman kopi. Kemarau yang datang lebih awal merupakan faktor pengganggu yang menyebabkan proses pembungaan kopi menjadi terganggu dan tidak bisa maksimal karena kekurangan air.


"Penyebab utamanya adalah musim kemarau yang datang lebih awal sehingga proses pembungaan kopi kekurangan air. Kondisi ini berdampak pada penurunan hasil produksi," terang Mulyadi, Kamis (30/07/2026).


Dinas yang dipimpinnya saat tengah menyiapkan langkah untuk mengatasi penurunan produksi tersebut. Salah satu yang dilakukan dengan menyiapkan langkah peremajaan tanaman kopi agar generasi mendatang dapat lebih produktif. Pohon-pohon yang sudah tua dan kurang produktif akan diremajakan.


“Alhamdulillah tahun 2026 kami mendapat dukungan dari Kementerian Pertanian berupa bantuan bibit kopi untuk program peremajaan sekitar 1.700 hektare yang tersebar di wilayah Kabupaten Bondowoso, terutama kawasan Ijen dan Argopuro,” jelasnya.


Mulyadi menjelaskan, kawasan sentra kopi Bondowoso terbagi menjadi dua wilayah utama. Kawasan timur yang berada di kaki Gunung Ijen dan Raung didominasi kopi arabika karena berada di ketinggian lebih dari 800 meter di atas permukaan laut. Sementara kawasan barat di lereng Gunung Argopuro lebih banyak menghasilkan kopi robusta.


Menurutnya, keberadaan dua Indikasi Geografis (IG) menjadi bukti kualitas kopi Bondowoso telah diakui pasar. Pengakuan tersebut membuat kopi Bondowoso memiliki karakter rasa yang berbeda dengan daerah lain dan semakin diminati pasar ekspor.


“IG menjadi pengakuan bahwa kopi Bondowoso memiliki identitas dan cita rasa tersendiri. Kualitasnya juga sudah diakui pasar internasional,” katanya.


Ke depan, DPKP akan terus mencari solusi untuk mengurangi dampak perubahan iklim terhadap budidaya kopi. Selain pendampingan teknis, pemerintah juga menyiapkan berbagai alternatif penyediaan air bagi kebun kopi saat musim kemarau panjang.(bjc/hans)