Peran Ayah Sesudah Rumah Tangga Tak Bisa Dipertahankan. Simak Ulasannya -->

Iklan Semua Halaman

Peran Ayah Sesudah Rumah Tangga Tak Bisa Dipertahankan. Simak Ulasannya

19/04/2026

gayahidup (jurnalbesuki.com) - Perceraian yang terjadi dalam sebuah rumah tangga sesungguhnya bukan akhir dari peran masing-masing komponen. Seorang bapak, ibu bahkan anak bisa memainkan peran positif terutama demi anak yang terpaksa terpisah.



Rata-rata pada setiap kasus perceraian, anak cenderung menjadi korban karena terjadi keterpisahan dengan salah satu orang tuanya. 


Jika anak akhirnya diasuh oleh ibunya, maka anak akan menjadi jauh dengan ayahnya. Padahal sebenarnya, anak dan ayah tidak bisa terhapus atas peran ayah dalam kehidupan anak.


Fenomena ini sering menjadi sorotan, karena masih ada ribuan orang tua dalam hal ini yang belum bisa menunaikan kewajiban memberikan nafkah kepada anak pasca perseraian. Fakta ini terungkap dari data pengadilan Agama Surabaya 2026.


Padahal, dalam perspektif hukum dan psikologi, peran ayah tetap berlangsung, bahkan setelah hubungan pernikahan berakhir.


Peran Ayah Tidak Berhenti Setelah Perceraian 


Dalam aturan hukum di Indonesia, kewajiban orangtua terhadap anak tetap melekat meski telah bercerai.


Melalui Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, ditegaskan bahwa orangtua, khususnya ayah, tetap bertanggung jawab atas pemeliharaan dan pendidikan anak sesuai dengan kemampuannya. 


Artinya, perceraian hanya mengakhiri hubungan suami dan istri, bukan hubungan antara orangtua dan anak. Peran sebagai ayah tetap berjalan seiring dengan tumbuh kembang anak, baik secara finansial maupun emosional.


Mengapa Peran Ayah Bisa “Terasa Hilang”? 


Psikolog Meity Arianty, STP., M.Psi., menjelaskan bahwa dalam praktiknya, tidak sedikit ayah yang secara perlahan menjauh setelah perceraian. 


Hal ini sering kali dipengaruhi oleh faktor psikologis, seperti luka emosional, konflik dengan mantan pasangan, hingga rasa gagal dalam menjalani pernikahan. 


“Dalam beberapa kasus, ayah bisa menarik diri sebagai bentuk coping yang maladaptif. Mereka tidak hanya menjauh dari mantan pasangan, tetapi juga dari anak,” ujarnya saat dihubungi Kompas belum lama ini.


Kehadiran Ayah Lebih dari Sekadar Nafkah Padahal, peran ayah tidak terbatas pada aspek finansial. Anak juga membutuhkan kehadiran emosional, perhatian, dan keterlibatan dalam proses tumbuh kembangnya. 


Ketidakhadiran ayah, baik secara finansial maupun emosional, dapat berdampak pada kondisi psikologis anak. Mulai dari rasa tidak aman, rendah diri, hingga kesulitan dalam membangun hubungan di masa depan. 


“Anak tetap membutuhkan figur ayah sebagai bagian dari pembentukan identitas dan rasa aman. Ini tidak tergantikan hanya dengan pemenuhan kebutuhan materi,” jelas Meity.(hans)