Jika Anda Butuh Detoxification Tubuh Usai Santap Makanan Menu Lebaran, Simak Caranya -->

Iklan Semua Halaman

Jika Anda Butuh Detoxification Tubuh Usai Santap Makanan Menu Lebaran, Simak Caranya

09/04/2026

Kesehatan (jurnalbesuki.com) - Lebaran Idul Fitri 2026 sudah lewat meninggalkan kesan luar biasa. Selama bersilaturrahmi dengan kerabat dan sahabat, tentu saja berbagai hidangan telah dinikmati dengan sedikit mengabaikan resiko kandungan yang kadang berbahaya bagi keseimbangan tubuh.


Foto: Makanan Hidangan Lebaran (dok.istimewa)

Makanan seperti Opor, semur, dan sambal bersama lontong dan Kupat menjadi menu sehari-hari yang dikonsumsi. Padahal makanan yang cenderung gurih, tinggi lemak, dan kaya lemak jenuh tersebut kerap menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan tubuh.


Mau tidak mau, jika menginginkan kesehatan kembali pulih dan arcun-racun dalam tubuh bisa dinetralkan, maka pasca lebaran diperlukan tindakan-tindakan agar kesehatan tubuh terkondisi bagus. Dengan kata lain tubuh harus dikenakan tindakan Detoxification.


Dalam istilah yang lebih sederhana detoxification berarti menghilangkan racun. Namun, gula dan lemak sejatinya bukanlah zat beracun, melainkan tetap dibutuhkan tubuh dalam proses metabolisme.


Dokter umum di salah satu rumah sakit swasta di Rembang, Iffa Luthfiyah, menilai pemahaman mengenai program detoks perlu diluruskan, terutama di kalangan masyarakat awam. Menurutnya, konsumsi gula dan lemak berlebih memang perlu dikendalikan, tetapi tidak harus dihilangkan sepenuhnya. 


“Sudah ada panduan piring sehat dari World Health Organization (WHO). Saat Lebaran, biasanya seseorang mengonsumsi makanan dengan porsi yang kurang seimbang antara karbohidrat, protein, lemak, dan serat,” ujarnya.


Ia mencontohkan menu lontong opor, di mana lontong sebagai sumber karbohidrat disandingkan dengan lauk bersantan yang mengandung protein sekaligus lemak. Namun, kandungan lemak dalam hidangan tersebut cenderung didominasi lemak jenuh yang jika dikonsumsi berlebihan tidak baik bagi tubuh. 


“Jika dikonsumsi berlebihan, dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam darah. Dari menu lontong opor saja, kebutuhan serat seperti sayur dan buah belum terpenuhi,” jelasnya. 


Iffa menekankan bahwa prinsip utama yang perlu diterapkan adalah diet seimbang, bukan mengikuti tren diet tertentu. Variasi makanan diperlukan agar kebutuhan makronutrien tubuh tetap terpenuhi.


“Jangan terlena dengan menu Lebaran yang tinggi karbohidrat dan lemak. Camilan atau kue Lebaran juga umumnya tinggi gula dan lemak,” tambahnya. 


Ia juga mengingatkan bahwa penerapan diet seimbang bergantung pada kondisi kesehatan masing-masing individu. Bagi orang sehat, cukup mengikuti panduan piring sehat dengan variasi menu, disertai pola tidur dan manajemen stres yang baik. 


“Sementara bagi penderita diabetes melitus, hiperkolesterolemia, obesitas, atau penyakit metabolik lainnya, diet perlu diatur secara khusus sesuai rekomendasi dokter atau ahli gizi,” ujarnya. 


Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa organ tubuh sebenarnya mampu mengatur metabolisme gula dan lemak secara alami. Namun, konsumsi berlebihan dapat meningkatkan risiko penyakit seperti diabetes melitus, dislipidemia, dan gangguan metabolik lainnya. 


“Dalam jangka panjang, penyakit metabolik dapat muncul disertai komplikasi yang lebih kompleks,” katanya. 


Karena itu, masyarakat dianjurkan mengatur pola makan secara mindful, termasuk membatasi konsumsi gula untuk mencegah lonjakan kadar gula darah.(nuo/hans)