Luas Kebakaran di Kawasan Hutan Gunung Argopuro Mencapai 205,3 Hektar

Iklan Semua Halaman

Luas Kebakaran di Kawasan Hutan Gunung Argopuro Mencapai 205,3 Hektar

01/11/2023

 

Situbondo(jurnalbesuki.com) - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan  Gunung Argopuro, Jawa Timur terus meluas. Saat ini, luasnya mencapai ratusan hektar, seperti yang terpantau dari citra satelit.


Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA)  Jawa Timur Nur Patria Kurniawan mengatakan, pada musim kemarau tahun 2023 ini,  luasan karhutla di Gunung Argopuro Situbondo mencapai 205,3 hektar. Meski demikian, pihaknya  belum melakukan validasi lapangan. 


"Berdasarkan hasil pantauan citra satelit tercatat sekitar 205,3 hektar. Bahkan, kami merencanakan  terjun ke lapangan untuk melakukan validasi. Selain itu, yang terbakar tidak hanya di jalur pendakian, namun tersebut disejumlah titik dengan kondisi jalan terjal,"ujar Nur Patria Kurniawan, Rabu (1/11/2023).


Menurut dia, di jalur pendakian sudah tidak terbakar lagi, seperti di  wilayah spot perkemahan di wilayah timur. Meski demikian,  api masih terpantau di wilayah barat dan masih terlihat campuran kabut dan asap (smog). 


"Untuk wilayah timur  apinya sudah padam, sedangkan   diwilayah  barat masih terlihat ada 3 titik api mengeluarkan asap bercampur kabut, itu yang kami sebut smog, kondisi smog itu juga yang membahayakan para  pendaki sehingga kami belum buka wisata pendakian sementara," katanya. 


Pria yang akrab dipanggil Patria  menyatakan bahwa di Gunung Argopuro telah turun  hujan dibeberapa titik. Dia berharap turunnya hujan bisa membantu memadamkam api di wilayah yang sulit terjangkau. 


"Dua hari lalu (Senin red-), setelah   magrib di Baderan Situbondo hujan meski gerimis namun waktunya cukup lama,"bebernya.


Lebih jauh Patria menambahkan,  BKSDA Jatim mengkaji kawasan hutan  Gunung Argopuro memiliki siklus kehidupan yang memiliki sisi positif untuk hewan di kawasan  tersebut, yakni siklus alam  suksesi sekunder,  seperti rumput dan alang-alang baru dan itu akan menjadi ladang makanan baru bagi hewan-hewan herbivora. 


"Dengan adanya suksesi sekunder tersebut seperti rumput dan alang-alang baru, itu menjadi tempat  hewan-hewan berkumpul,  terutama sejumlah  hewan kecil,"pungkasnya.(ary)