Gawat, Indonesia Produksi Emisi Kebakaran Hutan dan Lahan Paling Tinggi Sedunia -->

Iklan Semua Halaman

Gawat, Indonesia Produksi Emisi Kebakaran Hutan dan Lahan Paling Tinggi Sedunia

14/09/2026

Kehutanan (jurnalbesuki.com) - Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang melanda beberapa Daerah di Negara Indonesia berdampak serius bagi dunia. Pasalnya, akibat kebakran itu, Emisi Karbon Dioksida yang terproduksi melonjak tajam.


Foto : Ilustrasi Kebakaran Hutan dan Lahan Indonesia.(dok.istimewa)

Berdasarkan data dari Pemantau Iklim Uni Eropa tercatat bahwa emisi akibat kebakaran hutan dan lahan mencapai 19,7 Juta Metrik Ton hanya dalam waktu seminggu yaitu antara tanggal 1 sampai 7 September 2026.


Angka itu telah mendudukan Indonesia sebagai produsen carbon Dioksida terbesar di dunia mengalahkan Negara Rusia yang telah menyumbang lebih dari sepertiga emisi kebakaran hutan global dalam periode tersebut. Angka itu merupakan data ari Pemantauan Iklim Copernicus milik Uni Eropa sebagaimana dilaporkan Reuters pada senin (14/09/2026).


Indonesia mengalami lonjakan produksi emisi karbon dioksida itu akibat kebakaran disejumlah hutan dan lahan karena musim panas dan kering yang melanda beberapa wailayah seperti di Kalimantan, Sumatera dan beberapa wailayah lainnya.


Akibatnya, Emisi kebakaran di Indonesia pada periode ini tercatat hingga 273 persen lebih tinggi dibanding rata-rata kejadian sebelumnya. Kenyataan ini hampir mirip dengan kejadian pada tahun 2015 ketika Indonesia mengalami kebakaran hutan dan lahan paling buruk dalam sejarah pengelolaan hutan dan lahan.



Kondisi cuaca yang semakin kering diperparah oleh fenomena super-El Niño, yang membawa suhu tinggi dan meningkatkan risiko kebakaran di sejumlah wilayah.


Dampak kebakaran juga terlihat dari memburuknya kualitas udara. Di Pontianak, misalnya, indeks kualitas udara sempat mencapai level 394, yang menunjukkan kondisi sangat buruk akibat asap kebakaran.


Data pemerintah menunjukkan sekitar 202.000 hektare lahan telah terbakar sepanjang Januari hingga Juli 2026. Sementara itu, perkiraan untuk Agustus menunjukkan luas area yang terbakar meningkat tajam hingga sekitar 600.000.


Jumlah titik panas juga meningkat. Sepanjang 1 Agustus hingga 8 September, tercatat 13.443 titik panas di Indonesia. Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan 9.454 titik panas yang tercatat pada periode yang sama pada 2015.


Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran musim kebakaran tahun ini dapat berkembang menjadi salah satu yang terparah dalam beberapa tahun terakhir. Musim kebakaran diperkirakan masih dapat berlangsung hingga Oktober.


Besarnya emisi yang tercatat juga belum tentu menggambarkan keseluruhan dampak kebakaran. Kebakaran yang terjadi di bawah permukaan tanah, terutama pada lahan gambut, dapat sulit terdeteksi sehingga emisi sebenarnya berpotensi lebih tinggi.


Indonesia kini menghadapi tekanan untuk mengendalikan kebakaran di tengah kondisi cuaca yang membuat api lebih mudah menyebar. Pemerintah terus memantau perkembangan kebakaran, terutama di wilayah yang mengalami kondisi kering dan panas.


Lonjakan emisi tersebut kembali menunjukkan besarnya kontribusi kebakaran hutan dan lahan Indonesia terhadap emisi kebakaran global. Pada awal September 2026, kontribusi Indonesia bahkan telah menjadi yang terbesar di dunia berdasarkan pemantauan Copernicus.(detik/hans)