Ternyata Belajar Bahasa Asing Bermanfaat Bagi Kesehatan Otak -->

Iklan Semua Halaman

Ternyata Belajar Bahasa Asing Bermanfaat Bagi Kesehatan Otak

16/07/2026

Khazanah (jurnalbesuki.com) - Hasil penelitian terbaru tentang stimulus dan menjaga kesehatan otak manusia salah satunya didorong oleh penggunaan bahasa sehari-hari lebih dari satu. 



Selain disebut berpeluang menyehatkan otak, penggunaan bahasa lebih dari satu bisa juga untuk memperlambat penuaan otak, sehingga otak terdorong untuk lebih muda. 


Demikian hasil penelitian para pakar dan studi terbaru. Hal ini merujuk pada studi terbaru yang dipresentasikan dalam Forum Federasi Masyarakat Neurosains Eropa 2026.


Penelitian tersebut menemukan bahwa orang yang mampu berbicara dalam beberapa bahasa menunjukkan usia otak yang tampak lebih muda dibandingkan mereka yang hanya menggunakan satu bahasa. 


Dalam penelitian ini, para ilmuwan menganalisis aktivitas otak dari ratusan orang di wilayah Basque, Spanyol. Para peserta memiliki kemampuan bahasa yang beragam, mulai dari satu hingga empat bahasa, termasuk bahasa Spanyol, Basque, Prancis, dan Inggris.


Para peneliti menggunakan teknologi kecerdasan buatan (Al) untuk memperkirakan "usia otak" setiap peserta berdasarkan pola konektivitas otak. Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan antara kelompok yang hanya menguasai satu bahasa dan mereka yang menguasai beberapa bahasa.


Peserta yang menguasai dua bahasa atau bilingual memiliki otak yang diperkirakan sekitar enam tahun lebih muda dibandingkan peserta yang hanya berbicara satu bahasa. 


Sementara itu, mereka yang berbicara tiga bahasa memiliki usia otak yang tampak sekitar tujuh tahun lebih muda. Adapun peserta yang menguasai empat bahasa menunjukkan perbedaan paling besar, dengan usia otak yang tampak sekitar 13 tahun lebih muda dibandingkan kelompok monolingual.


Penelitian ini juga menunjukkan bahwa orang yang mempelajari bahasa kedua lebih awal dalam kehidupan dan mencapai tingkat kefasihan tinggi cenderung memperoleh manfaat yang lebih besar terhadap kesehatan otak. 


Dokter spesialis saraf, Tommy Wood, mengatakan temuan tersebut sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa kemampuan berbicara dalam beberapa bahasa dapat membantu menjaga fungsi kognitif seiring bertambahnya usia.


Sebagian besar bukti mengenai manfaat belajar beberapa bahasa selama ini berasal dari individu yang tumbuh dalam lingkungan bilingual atau mempelajarì beberapa bahasa sejak masa kanak-kanak. 


"Tapi orang dewasa yang tidak tumbuh dengan lebih dari satu bahasa tidak perlu menganggap kesempatan untuk mendapatkan manfaat tersebut telah hilang. Tidak ada batas usia yang jelas di mana mempelajari bahasa kedua tidak lagi memberikan manfaat," kata Wood yang tidak terlibat langsung dalam penelitian tersebut, dilansir laman Fox News, Senin (13/7/2026).


Menurutnya, beberapa uji coba terkontrol secara acak yang melibatkan orang dewasa lanjut usia menunjukkan adanya peningkatan kemampuan perhatian, memori kerja, dan fungsi eksekutif setelah hanya beberapa bulan mengikuti pembelajaran bahasa. 


Selain meningkatkan fungsi kognitif, belajar bahasa baru juga dapat membantu seseorang tetap aktif secara sosial serta memperkuat kemampuan otak dalam menerima dan mengolah informasi baru. 


"Jika Anda memilih untuk mempelajari bahasa baru, belajarlah dengan tekun, tantang diri kalian, dan takut salah. Membuat kesalahan adalah satu satu pendorong terbesar neuroplastisitas atau kemampuan otak untuk berubah dan beradaptasi melalui proses belajar," kata dia.


Wood menyarankan orang yang ingin mempelajari bahasa baru agar terlibat secara aktif, menantang diri sendiri, serta menerima kegagalan kecil yang mungkin terjadi selama proses belajar. Menurutnya, sikap tersebut justru dapat membantu seseorang belajar lebih cepat.


Meski menunjukkan hubungan antara kemampuan multibahasa dan usia otak yang lebih muda, para peneliti mengakui bahwa penelitian tersebut memiliki sejumlah keterbatasan. 


Mereka telah memperhitungkan beberapa faktor seperti usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan peserta. Namun, para peneliti mengatakan mereka belum dapat sepenuhnya menghilang kan kemungkinan pengarh faktor lain, seperti gaya hidup dan tingkat keterlibatan sosial, yang juga dapat memengaruhi hasil penelitian.(repub/hans)