Mengenali Penyebab Adik Kakak Sulit Akur, Simak 3 faktor Berikut -->

Iklan Semua Halaman

Mengenali Penyebab Adik Kakak Sulit Akur, Simak 3 faktor Berikut

08/04/2026

Gayahidup (jurnalbesuki.com) - Orang tua selalu berharap agar anak-anaknya bisa hidup rukun, guyub dan tidak berselisih. Kondisi itu bagi orang tua adalah kebahagiaan luar biasa dan membanggakan.


Foto: Ilustrasi Kakak Adik Sulit Akur.(dok.kompas)

Tetapi banyak kasus yang terjadi justru dalam keseharian kakak dan adik sulit bisa kompak dan selalu berselisih. Tentu saja kondisi ini menjadi sesuatu yang menyedihkan bagi orang tua.


Sebagaimana dilansir kompascom, terdapat beberapa hal yang harus dicermati untuk memahami kondisi anak didalam sebuah rumah tangga. 


Berikut adalah faktor yang harus diperhatikan untuk dapat menyelesaikan tantangan terhadap prilaku anak terutama antara kakak dan adik.


Hubungan kakak adik tidak harmonis 


Faktor penentu kedekatan 


Hubungan antara kakak dan adik bisa akur jika orangtua terlibat. Di beberapa keluarga, ayah dan ibu sengaja mendidik anak-anaknya agar terus akrab. Mereka diajarkan untuk saling melindungi dan memandang satu sama lain sebagai "sekutu" sejak dini. 


Misalnya, ibu mungkin mendorongmu mengajak sang adik bermain, atau kakak laki-laki mengajarkan cara bersepeda.


Menurut Runt, pengalaman di masa kecil inilah yang secara diam-diam membentuk pola hubungan kakak beradiik saat dewasa. 


Penyebab kakak adik sering bertengkar


Meskipun peran orangtua sangat penting dalam menumbuhkan benih kasih sayang, ada kalanya tindakan yang kurang tepat malah menjadi pemicu keretakan. Beberapa faktor internal dalam pola asuh maupun kondisi personal antar-saudara sering kali menjadi akar penyebab mengapa keharmonisan sulit tercapai.


1. Pilih kasih 


Sebagaimana kenangan positif merekatkan hubungan, pengalaman pahit justru mampu menjauhkan kakak dan adik. 


“Pilih kasih adalah salah satu dari banyak hal yang dilakukan orangtua, meskipun itu tidak disengaja,” kata terapis yang berbasis di Washington, DC, AS, Karen Gail Lewis, MSW, EdD. 


Tidak peduli apakah kamu anak sulung, anak tengah, atau bungsu, pihak yang tidak memperoleh perlakuan istimewa biasanya akan menyimpan rasa sakit hati. 


Perlakuan tidak adil ini bisa berupa rentetan kritik tajam hingga perbandingan tiada henti. Dendam yang tertanam mempersulit upaya membangun kepercayaan jangka panjang.


2. Jarak usia


Banyak pihak kerap menebak-nebak soal rentang usia paling ideal antar saudara kandung. Menurut Gail Lewis, tidak ada pola yang jelas yang dpat memprediksi kedekatan dalam hal usia atau jenis kelamin. 


Jarak umur mencapai enam tahun atau lebih dapat menyulitkan interaksi setara, sedangkan tumbuh bersama dengan selisih usia berdekatan lebih berpeluang menciptakan persahabatan. 


Kendati demikian, jarak perbedaan usia yang terlalu jauh juga memiliki nilai positifnya karena menghilangkan persaingan antara kakak dan adik. 


Sementara itu, kakak adik dengan rentang usia berdekatan lebih rentan diadu domba atau dibandingkan secara halus, sehingga berpotensi merusak keharmonisan hubungan secara perlahan.


3. Perbedaan kepribadian


Terkadang, alasan utama kamu tidak akur dengan kakak atau adik adalah minimnya kesamaan minat. 


Menurut Runt dan Gail Lewis, perbedaan karakter ekstrem membuat kalian seolah hidup di dunia berbeda. Apabila tidak terikat satu atap, kalian mungkin tidak akan pernah memilih satu sama lain sebagai teman. 


Sangat sulit menyatukan sosok yang suka berdiam diri di kamar dengan sosok yang sangat aktif. Begitu pula seorang pemberontak pencinta risiko akan kesulitan membangun persahabatan dengan individu yang mematuhi aturan orangtua.


Akan ada waktu untuk akur kembali 


Meskipun perbedaan karakter dan masa lalu yang pahit tampak sulit didamaikan, hubungan persaudaraan sebenarnya bersifat dinamis. 


Seiring bertambahnya usia dan kedewasaan, tembok besar yang menghalangi komunikasi antar-saudara bisa saja runtuh dengan sendirinya.


Runt mengatakan, peluang mereka untuk kembali akrab akan terbuka apabila mereka telah melewati fase kehidupan yang serupa. 


"Mungkin mereka berdua mulai memiliki anak atau menikah sekitar waktu yang sama," tutur dia. 


Bisa juga karena mereka memiliki kenangan yang serupa tentang sosok yang sama, misalnya kakak beradik pernah diajar oleh guru yang dikenal baik, dan guru tersebut meninggalkan kesan positif di benak mereka. 


Perubahan semacam ini alamiahnya mendorong mereka bertukar pikiran atau saling mengandalkan satu sama lain.(kompas/hans)