Hari Bumi 2026: PT POMI Perkuat Konservasi Hutan dan Ketahanan Air di Selobanteng -->

Iklan Semua Halaman

Hari Bumi 2026: PT POMI Perkuat Konservasi Hutan dan Ketahanan Air di Selobanteng

18/04/2026

Situbondo (jurnalbesuki.com) - PT Paiton Operation and Maintenance Indonesia (POMI), terus berkomitmen memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengelola hutan rakyat di Desa Selobanteng, Kecamatan Banyuglugur, Situbondo. Melalui strategi kolaborasi lintas sektor, upaya ini sekaligus menjadi momentum peringatan Hari Bumi yang jatuh pada 22 April 2026.



Bertempat di Pos Pantau Keanekaragaman Hayati (Kehati) Selobanteng pada Sabtu (18/4), rangkaian kegiatan diisi dengan sosialisasi "Sekolah Air Hujan" dan demonstrasi penggunaan kompor wood pellet sebagai alternatif energi ramah lingkungan.


Manager Human Capital, Facility and Community (HCFC) POMI, Rochman Hidayat, menjelaskan bahwa program utama perusahaan selama ini berfokus pada perlindungan sumber mata air alami.


"Fokus kami adalah konservasi berkelanjutan agar mata air di Selobanteng tetap terjaga kualitas dan debitnya, sehingga manfaatnya dapat dirasakan hingga ke wilayah di bawahnya," ujar Rochman.


Selain aspek lingkungan, POMI juga memberikan dukungan infrastruktur nyata berupa pembangunan fasilitas air di sumber mata air serta pengadaan tandon air untuk siswa di SD Selobanteng.


Dalam menjaga ekosistem hutan, PT POMI menggandeng kelompok Relawan Pemadam Hutan (Reptor). Kolaborasi ini diwujudkan melalui pembangunan Pos Pantau Kehati yang berfungsi sebagai pusat pengawasan kebakaran hutan sekaligus pos perlindungan satwa liar.


Terkait tantangan air bersih di musim kemarau, pihak perusahaan tengah mengkaji rencana pengeboran sumur bor. Meski kondisi geografis yang tinggi memberikan tantangan teknis tersendiri, Rochman menegaskan pihaknya terus mencari solusi terbaik untuk mengurangi beban masyarakat saat kekeringan.


"Sebagai solusi alternatif, PT POMI mengedukasi warga melalui program Sekolah Air Hujan. Masyarakat diajak untuk memanen air hujan selama musim basah sebagai cadangan kebutuhan saat musim kemarau tiba,"katanya.


Di sektor energi, PT POMI memperkenalkan penggunaan wood pellet yang berasal dari pengolahan limbah ranting pohon hasil hutan rakyat. Sebagian digunakan sebagai campuran bahan bakar (co-firing) di PLTU. Sebagai  alternatif bahan bakar rumah tangga yang lebih murah dan ramah lingkungan dibandingkan LPG.


"Harapannya, rangkaian program ini menciptakan kemandirian bagi masyarakat Selobanteng, baik dalam pemenuhan kebutuhan air maupun energi,"pungkasnya.


Muntaha Kepala Desa (Kades) Selobanteng Kecamatan Banyuglugur, Kabupaten Situbondo mengatakan, saat  ini desanya menjadi model kesuksesan kolaborasi antara pemerintah desa, sektor industri, dan akademisi dalam pemulihan ekosistem. 


Melalui komitmen panjang yang dimulai sejak 2009, desa yang dulunya gersang dan langganan krisis air ini telah bertransformasi menjadi kawasan hijau dengan ketersediaan air yang stabil.


 Muntaha, menjelaskan bahwa langkah mitigasi lingkungan ini mulai digencarkan pada 2010 dengan menggandeng PT POMI. Hingga saat ini, sebanyak 300.000 bibit pohon telah ditanam di area hutan desa, yang dampaknya kini mulai dirasakan langsung oleh masyarakat.


"Dulu, Desa Selobanteng harus disuplai air dari wilayah bawah karena kekeringan. Namun sekarang, kami memiliki sumber mata air alami yang jumlahnya terus bertambah," ujar Muntaha.


Lebih jauh Muntaha menjelaskan, keberhasilan konservasi ini tidak hanya memulihkan cadangan air, tetapi juga menarik perhatian dunia pendidikan. Saat ini, Hutan Desa Selobanteng menjadi pusat studi bagi berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk penelitian cadangan karbon (carbon stock).


"Selain dampak lingkungan, program ini turut menggerakkan roda ekonomi warga. Masyarakat kini mendapatkan akses dana lunak melalui DLH,serta memperoleh penghasilan tambahan dari pengelolaan hasil hutan non-kayu,"beber Muntaha.


Sementara itu, Dosen Universitas Negeri Malang (UM), Profesor DR. Fatchur Rahman, menyampaikan  setelah melakukan pemantauan langsung bersama tim kolaborasi di Desa Selobanteng mengatakan, masyarakat yang dulunya kesulitan air selama puluhan tahun, kini mulai merasakan dampak positif secara nyata.


Dalam tinjauannya, Prof. Fatchur menyoroti perubahan signifikan pada ketersediaan sumber daya air, dampak penanaman ribuan bibit pohon secara intensif terbukti efektif menjaga cadangan air tanah.


"Warga Desa Selobanteng yang dulu mengalami krisis air parah saat kemarau, kini leluasa memenuhi kebutuhan rumah tangga dan mencuci tanpa rasa khawatir,"katanya.


Meskipun kondisi sudah stabil, Prof. Fatchur menegaskan bahwa pemantauan tidak boleh berhenti. Ia mendorong penguatan kolaborasi dengan Dunia Usaha Dunia Industri (DUDI), khususnya PT. POMI, untuk menjaga keberlangsungan program.


"Monitoring selalu kita lakukan untuk melihat perubahan di kawasan Desa Selobanteng. Program yang ada perlu ditingkatkan, terutama mencari alternatif sumber mata air baru," ujar Prof. Fatchur.


Salah satu inovasi yang mendapat apresiasi tinggi adalah program "Memanen Air Hujan". Langkah ini dinilai sebagai bentuk adaptasi cerdas terhadap tantangan perubahan iklim (climate change).


"Memanen air hujan adalah bentuk adaptasi penyesuaian. Di samping reboisasi yang tetap harus berjalan, inovasi seperti ini akan memperkuat ketahanan lingkungan desa dalam jangka panjang,"katanya.


Melalui sinergi antara akademisi, industri, dan masyarakat, Desa Selobanteng diharapkan menjadi model sukses bagi desa-desa lain di Indonesia dalam mengelola ekosistem dan mengatasi krisis air secara berkelanjutan.(ary/hans)