Jember (jurnalbesuki.com) - Pemerintah Kabupaten Jember telah secara resmi mengoperasikan program layanan kesehatan mayarakat dengan mendatangi rumah-rumah yang sakit. Layanan Homecare itu didukung oleh sekitar 1.200 personil nakes yang selalu siap mendatangi rumah warga yang sakit dan melakukan tindakan medis yang diperlukan.
![]() |
| Foto: Petugas kesehatan mendatangi rumah warga miskin yang sakit.(dok.ppidjember) |
Program Homecare merupakan gagasan Bupati Jember H. Muhammad Fawait untuk bisa memberikan layanan medis kepada masyarakat bawah dengan metode 'Jemput Bola'. Masyarakat miskin yang rata-rata engga berhubungan dengan pihak medis karena faktor biaya, kini bisa mendapatkan faasilitas secara gratis dan didatangi petugas tanpa harus mendatangi.
Hasil evaluasi setelah program Homecare berjalan ini terbukti bisa memberikan layanan bagus bagi masyarakat yang sakit terutama yang tinggal dipelosok desa dan berkondisi miskin ekstreem. Saat ini layanan jemput bola bagi warga sakit disambut gembira masyarakat.
Bupati Fawait sendiri mengungkap bahwa lahirnya program itu sesungguhnya tidak lepas dari potret masa kecil dirinya yang hidup dimasyarakat. Ketika Bupati yag akrab disapa Gus Fawait itu secara langsung melihat bagaimana masyarakat miskin sangat kesulitan untuk berobat ketika sedang sakit.
"Sebagai Bupati terpilih yang berangkat dari situasi tidak ideal dimana tanah kelahiran saya tingkat kemiskinannya masih sangat tinggi menjadi beban moral bagi saya dan selalu berpikir bagaimana mencari solusi bagi masyarakat," ungkap Gus Fawait menceritakan ide awal lahirnya program Homecare di Kabupaten Jember.
Beban moral itu bagi Gus Fawait menjadi semakin besar karena ibundanya selalu mengingatkan dan berpesan agar selalu berpihak kepada masyarakat kecil dan miskin. Apalagi di daerahnya masih sangat banyak orang miskin yang cenderung ekstreem. Pesan itu menjadi peringatan keras yang terus terngiang dibenak Kader Muda Partai Gerindra itu.
"Di awal saya menjabat jadi bupati, saya selalu diingatkan oleh umik saya, ibu saya. Kalau seandainya semenjak saya dilantik jadi bupati ada warga Jember yang sakit, tidak bisa mendapatkan pengobatan kesehatan karena faktor biaya dan terjadi apa-apa, yang dosa bupatinya," ungkap Fawait.
Menindaklanjuti arahan pemerintah pusat serta pesan dari sang ibu, Fawait langsung bergerak cepat melakukan efisiensi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Hanya dalam waktu satu bulan yang bertepatan dengan bulan Ramadan, Pemkab Jember berhasil meraih predikat Universal Health Coverage (UHC).
Predikat ini memungkinkan seluruh warga Jember berobat secara gratis di puskesmas maupun rumah sakit di seluruh Indonesia hanya dengan menunjukkan identitas kependudukan. Meski layanan pengobatan sudah gratis,
Fawait mendapati kenyataan pahit saat turun langsung ke lapangan. Masih banyak kelompok masyarakat miskin ekstrem atau fakir yang tetap menahan sakit di rumah dan enggan pergi ke fasilitas kesehatan.
"Mereka ternyata masih belum berangkat, belum ke rumah sakit atau puskesmas padahal sudah gratis. Karena mereka tidak ada biaya transportasi ke rumah sakit atau puskesmas, dan keluarga yang ditinggalkan tidak ada yang menghidupi," tuturnya.
Kondisi tersebut membuat Fawait merasa tertampar sebagai pemimpin daerah. Ia menyadari bahwa kebijakan berobat gratis belum cukup untuk menjangkau warga yang berada di taraf miskin ekstrem.
"Saya sebagai kepala daerah merasa tertampar. Masih ada rakyat saya yang miskin ekstrem sakit dan tidak berangkat padahal sudah kita gratiskan di puskesmas dan rumah sakit. Itu yang membuat saya mencoba dengan segala keterbatasan mencari jalan keluar," tegas Fawait.(kpas/hans)

Komentar