Perangi Stunting, Pemkab Banyuwangi Libatkan Pedagang Sayuran

Iklan Semua Halaman

Perangi Stunting, Pemkab Banyuwangi Libatkan Pedagang Sayuran

27/01/2023

Bupati Banyuwangi tinjau pelaksanaan program Penurunan Stunting

 Banyuwangi - Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melibatkan para penjual sayuran keliling untuk memerangi kasus Stunting yang terjadi diwilayahnya. Para pedagang yang lazim disebut Wlijoan itu diminta untuk menjadi tenaga antar paket makanan bernutrisi yang sudah didata by name by address.


Keseriusan itu ditunjukkan oleh Bupati Banyuwangi dengan melakukan inspeksi langsung ke beberapa titik yang memantau pelaksanaan program Penurunan Stunting yang dibiayai APBD hingga kisaran angka Rp. 7 Milyar itu. 


Bupati Ipuk mengecek langsung penyiapan program tersebut. Ipuk mengunjungi Ibu Maninten yang putrinya usia 19 bulan memiliki berat badan kurang dari 8 Kg dan tinggi badan hanya 73 cm. Maninten yang tinggal di Desa Watukebo, Kecamatan Wongsorejo, ini setiap hari akan dikirimi sayuran dan bahan makanan berprotein tinggi oleh Suyanto, penjual sayur keliling di lokasi tersebut.


"Saya diberi tugas setiap hari mengirim bahan makanan. Mulai sayuran, lalu ditambah daging ayam, daging sapi, atau telur. Bergantian belanjaan yang dikirim, biar tidak bosan juga," kata Suyanto kepada Bupati Ipuk di sela-sela kegiatan Bupati Ngantor di Desa di Desa Watukebo, Kecamatan Wongsorejo, Rabu (25/1/2023).


Ipuk menjelaskan, pada 2023 ini, Pemkab Banyuwangi mengalokasikan anggaran Rp 7 miliar untuk intervensi nutrisi ke ibu hamil risiko tinggi dan bayi di bawah dua tahun atau baduta guna mempercepat penurunan stunting.


Ipuk menjelaskan anggaran tersebut dialokasikan untuk 25 kecamatan, nantinya kecamatan bekerjasama dengan warung atau mlijoan untuk menyalurkan makanan bernutrisi, seperti telor, ikan, ayam, daging kepada bayi dan dan bumil risti. Warung dan mlijoan nantinya akan dibayar oleh tim untuk proses penyalurannya.


"Jadi dengan program ini, selain bayi dan ibu hamil mendapat tambahan asupan nutrisi, warung-warung dan mlijoan juga mendapat manfaat. Ini juga upaya untuk meningkatkan ekonomi arus bawah," jelas Ipuk.


Untuk memonitor perkembangan balita stunting, kader posyandu atau dasa wisma dilibatkan. Mereka setiap harinya diminta mengunggah data nutrisi yang diterima sasaran dalam sebuah aplikasi Banyuwangi Tanggap Stunting.


"Mereka setiap hari akan update data, mulai nutrisi yang diterima maupun perkembangan kondisi bayi atau bumil risti yang sedang diintervensi. Jadi datanya real time," kata Ipuk.


Dalam penanganan stunting, Banyuwangi telah mengidentifikasi data by name, by address, berikut faktor resikonya.(detik/hans)