Inilah 15 Nama Pahlawan Nasional Asal Jawa Timur Mulai dari Ir. Soekarno Hingga KH. Hasyim Asy'ari

Iklan Semua Halaman

Inilah 15 Nama Pahlawan Nasional Asal Jawa Timur Mulai dari Ir. Soekarno Hingga KH. Hasyim Asy'ari

06/08/2022


Surabaya (jurnalbesuki.com) - Tanggal 17 Agustus diperingati sebagai Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Momen tersebut menjadi waktu yang tepat untuk mengenang jasa para pahlawan Indonesia.


Pahlawan-pahlawan tersebut berasal dari berbagai daerah di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Di Jawa Timur ada sejumlah pahlawan nasional yang masih dikenang oleh masyarakat sampai saat ini.


Berikut 15 pahlawan nasional dari Jawa Timur beserta profil singkatnya, seperti dikutip dari situs resmi Kementerian Sosial:

1. Ir Soekarno

Presiden pertama Republik Indonesia lahir pada 6 Juni 1901 di Surabaya, Jawa Timur dengan nama kecil Kusno Sosrodihardjo.


Soekarno merupakan anak dari pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai. Nama kecil Soekarno diganti agar tidak sakit-sakitan.


Sejak kecil, Soekarno sudah menjadi anak yang berprestasi dan mampu menguasai banyak bahasa. Soekarno senang belajar banyak hal dengan tokoh-tokoh hebat Indonesia.


Tahun 1926, Soekarno mendapat gelar insinyur setelah menyelesaikan masa pendidikannya di Technische Hooge School (THS) jurusan teknik sipil atau ITB. Ir Soekarno memiliki jasa yang besar untuk kemerdekaan Indonesia. Ir Soekarno wafat pada 21 Juni 1970 dan dimakamkan di Blitar, Jawa Timur.


2. Sutomo

Sutomo atau yang lebih dikenal Bung Tomo merupakan pahlawan kelahiran Surabaya pada 3 Oktober 1920. Bung Tomo adalah anak dari pasangan Kartawan Tjiptowidjojo dan Subastita.


Semasa muda, Bung Tomo begitu aktif dalam berbagai kegiatan. Seperti menjadi sekretaris Partai Indonesia Raya Ranting Anak Cabang di Tembok Duku, Surabaya tahun 1937, wartawan lepas Harian Soeara Oemoem di Surabaya tahun 1937, dan pemimpin redaksi kantor Berita Antara di Surabaya tahun 1945.


Bung Tomo punya peran penting dalam peristiwa pertempuran 10 November 1945. Dengan pidatonya, Bung Tomo mengobarkan semangat rakyat untuk berjuang melawan tentara sekutu.


Bung Tomo meninggal dunia saat melaksanakan ibadah haji di Padang Arafah. Jasadnya dimakamkan di daerah Ngagel, Surabaya.


3. HOS Tjokroaminoto

Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto lahir pada 6 Agustus 1882 di Ponorogo, Jawa Timur. Tjokroaminoto merupakan anak kedua dari R.M. Tjokroamiseno.


Sejak kecil Tjokroaminoto mengenyam pendidikan di sekolah Belanda. Setelah lulus dari OSVIA (Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren), Tjokroaminoto bekerja sebagai juru tulis patih di Ngawi. Setelah itu, Tjokroaminoto diangkat sebagai pembantu utama patih di Ngawi.


Pada 1905, Tjokroaminoto pindah ke Surabaya dan melanjutkan pendidikan di Burgerlijke Avondschool. Tjokroaminoto kemudian diajak oleh Haji Samanhudi untuk bergabung ke Sarekat Dagang Islam.


Saat bergabung pada 1912, Tjokroaminoto mengubah nama Sarekat Dagang Islam menjadi Sarekat Islam. Tjokroaminoto wafat di Yogyakarta pada 17 Desember 1934.


4. Abdul Halim Perdanakusuma

Abdul Halim Perdanakusuma adalah seorang pahlawan nasional yang lahir di Sampang pada 18 November 1922. Halim merupakan putra dari patih Sumenep, Haji Abdul Gani Wongsotaruno.


Setelah tamat dari sekolah MULO (Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs) di Surabaya, Halim dikirim ke Magelang untuk menempuh pendidikan di OSVIA. Namun, Perang Dunia II pecah di Eropa pada akhir tahun 1939. Sehingga pendidikan Halim terputus diganti dengan wajib militer.


Abdul Halim Perdanakusuma meninggal pada 14 Desember 1947 saat tengah menjalankan tugas perang. Waktu itu, Halim ditugaskan untuk membeli dan mengangkut perlengkapan senjata dari Thailand. Namun, pesawat yang dinaiki terjebak dalam cuaca buruk sehingga jatuh di Malaysia.


5. Soeprijadi

Soeprijadi lahir pada 13 April 1923 di Trenggalek, Jawa Timur. Usai lulus dari MULO, Soeprijadi melanjutkan pendidikannya di Sekolah Pamong Praja Magelang.


Namun, Jepang menyerbu Indonesia sebelum Soeprijadi lulus. Setelah sempat mengikuti Seimendoyo (pelatihan semi-militer kepemudaan) di Tangerang, Soeprijadi bergabung dengan PETA yang ditugaskan di Blitar, Jawa Timur. Saat itu, Soeprijadi menyaksikan penderitaan para pekerja romusha.


Oleh karena itu, Soeprijadi ingin memberontak melawan Jepang. Pemberontakan PETA terhadap Jepang dimulai pada 14 Februari 1945.


Namun, Jepang dapat menyelesaikan pemberontakan tersebut. Beberapa tentara dihukum mati, sementara yang lainnya dipenjara. Tetapi Soeprijadi melarikan diri dan tidak pernah muncul lagi.


6. dr Soetomo

dr Soetomo memiliki nama asli Soebroto. Ia lahir pada 30 Juli 1888 di Desa Ngepeh, Nganjuk, Jawa Timur.


Pada 20 Mei 1908, dr Soetomo mendirikan Boedi Oetomo sesuai saran dr Wahidin Soedirohoesodo. Tujuan berdirinya organisasi tersebut untuk memajukan pendidikan dan kebudayaan sebagai jalan pembebasan bangsa dari penjajahan.


Usai lulus dari STOVIA, dr Soetomo ditugaskan ke beberapa daerah Indonesia. Mulai dari Semarang, Tuban, Sumatra Utara, hingga Malang.


Di Malang, dr Soetomo bertugas untuk menangani wabah pes yang sedang melanda masyarakat. Sebagai dokter, dr Soetomo semakin mengetahui penderitaan rakyat Indonesia.


Selain itu, dr Soetomo juga aktif dalam bidang kewartawanan. dr Soetomo meninggal dunia di Surabaya pada 30 Mei 1938.


7. Ario Soerjo

Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo lahir pada 9 Juli 1898 di Magetan, Jawa Timur. Ario Soerjo merupakan gubernur pertama Jawa Timur dari tahun 1945 hingga 1948.


Pada 26 Oktober 1945, Soerjo ikut andil dalam penetapan membuat perjanjian gencatan senjata antara pasukan Inggris terhadap rakyat Surabaya. Namun, gencatan senjata tersebut tak berlangsung lama. Pertempuran tetap berlangsung hingga mengakibatkan Jenderal Mallaby tewas.


Inggris mengeluarkan ultimatum untuk rakyat Surabaya agar menyerahkan semua senjata. Namun, Gubernur Soerjo dengan tegas berpidato jika rakyat Surabaya akan melawan Inggris sampai darah penghabisan.


Lalu terjadilah pertempuran besar pada tanggal 10 November 1945. Gubernur Soerjo meninggal pada 10 September 1948 di Ngawi, Jawa Timur.


8. MT Haryono

Letnan Jenderal TNI Anumerta Mas Tirtodarmo Haryono lahir pada 20 Januari 1924 di Surabaya, Jawa Timur.


Pada masa penjajahan Belanda, MT Haryono sempat mengenyam pendidikan di berbagai tempat. Mulai dari ELS, HBS, hingga sebuah sekolah kedokteran di Ika Dai Gakko.


Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia dikumandangkan, MT Haryono bergabung ke TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Berkat prestasinya, MT Haryono berkali-kali naik pangkat hingga mendapat jabatan Letnan Jenderal.


MT Haryono menjadi salah satu korban peristiwa lubang buaya dalam tragedi G30S PKI pada 30 September 1965. Para korban dari tragedi G30S PKI tersebut kemudian dijuluki sebagai Pahlawan Revolusi. Jasad MT Haryono dimakamkan di Kalibata, Jakarta.


9. Soeroso

Raden Pandji Soeroso lahir pada 3 November 1893 di Porong, Jawa Timur. Sesuai dengan keputusan PPKI tentang menteri dan pembagian wilayah menjadi delapan provinsi pada tanggal 19 Agustus 1945, Soeroso ditetapkan sebagai Gubernur Jawa Tengah.


Soeroso juga pernah menjabat sebagai Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia keempat, Menteri Sosial Republik Indonesia ke-10, serta Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia ke-12 di era kepemimpinan Presiden Soekarno.


Soeroso merupakan pahlawan yang memperjuangkan kesejahteraan pegawai negeri untuk bisa membeli rumah dinas. Soeroso dikenal sebagai Pendiri Koperasi Pegawai Negeri Republik Indonesia. Soeroso wafat pada 16 Mei 1981 saat usianya 87 tahun.


10. Mas Isman

Mas Isman lahir pada 1 Januari 1924 di Bondowoso, Jawa Timur. Semasa muda, Mas Isman pernah mengenyam pendidikan di Purwokerto, Cirebon, Malang dan Surabaya.


Mas Isman dikenal sebagai inisiator beberapa organisasi. Mulai dari TKR Pelajar Surabaya pada 1945-1946, TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar) Jawa Timur pada 1946-1950, serta Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong (KOSGORO).


Mas Isman merupakan pejuang yang memiliki semboyan Tri Dharma. Yakni pengabdian, kerakyatan dan solidaritas. Mas Isman meninggal dunia pada 12 Desember 1982 di Surabaya, Jawa Timur saat berusia 58 tahun.


11. KH Mas Mansoer

KH Mas Mansoer merupakan seorang pahlawan nasional yang lahir pada 25 Juni 1896 di Surabaya, Jawa Timur. KH Mas Mansoer adalah putra dari KH Mas Ahmad Marzuki.


Semasa muda, KH Mas Mansoer belajar keagamaan di beberapa pondok pesantren. Seperti Pondok Pesantren Sidoresmo dan Pondok Pesantren Demangan.


KH Mas Mansoer juga sempat menimba ilmu di Mesir. Selain aktif di bidang keagamaan, KH Mas Mansoer juga termasuk dalam Empat Serangkai yang memperjuangkan nasib rakyat Indonesia pada masa penjajahan.


Pada 1937, KH Mas Mansoer terpilih menjadi Ketua Umum Muhammadiyah setelah pemilihan pada Muktamar Muhammadiyah ke-26. KH Mas Mansoer terus berjuang memberi semangat kepada barisna pemuda untuk melawan koloni Belanda.


Akibatnya, KH Mas Mansoer ditahan di Kalisosok dan meninggal di sel tahanan pada 25 April 1946.


12. KH Hasyim Asy'ari

KH Hasyim Asy'ari adalah seorang pahlawan nasional yang lahir pada 14 Februari 1871 di Jombang, Jawa Timur. Di usia mudanya, KH Hasyim Asy'ari berkelana mencari ilmu di beberapa pesantren.


Dari Pesantren Wonokoyo, Pesantren Langitan, Pesantren Trenggilis, Pesantren Siwalan hingga Pesantren Panji. Puncak perjuangan KH Hasyim Asy'ari ialah peristiwa resolusi jihad pada 22 Oktober 1945, sebelum terjadinya perang 10 November 1945.


Resolusi jihad merupakan pernyataan tertulis oleh wakil-wakil masyarakat untuk meminta ketegasan pemerintah terhadap agresi militer Inggris. KH Hasyim As'ari meninggal dunia pada 21 Juli 1947. Makamnya berlokasi di Tebu Ireng, Jombang.


13. Untung Surapati

Untung Surapati memiliki nama asli Surawiraaji. Ia lahir pada tahun 1660 di Bali.

Dalam naskah Babad Tanah Jawi, Untung Surapati ditemukan oleh perwira VOC Kapten Van Beber di Makassar. Kapten Van Beber kemudian menjual Untung Suropati ke Edelaar Moor.


Untung Surapati sempat dipenjara karena kedapatan menikah dengan putri dari Edelar Moor, Suzanne. Namun, Untung Surapati berhasil kabur dari penjara lalu membentuk pasukan pemberontak Belanda.


Karena melihat penderitaan rakyat Indonesia semasa kependudukan VOC, Untung Surapati bertekad untuk menyerang VOC. Pasukan pemberontak Belanda semakin bertambah banyak hingga berhasil merebut wilayah VOC di Jawa Barat. Untung Surapati meninggal saat pertempuran pada 5 Desember 1706 di Bangil, Jawa Timur.


14. Iswahjoedi

Iswahjoedi merupakan seorang pahlawan nasional yang lahir pada 15 Juli 1918 di Surabaya, Jawa Timur. Pendidikan Iswahjoedi dimulai dari HS, MULO dan AMS.


Iswahjoedi juga sempat sekolah kedokteran di NIAS (Nederlandschi Indische Artsen School). Pada 1941, Iswahjoedi belajar di sekolah penerbangan Belanda di Kalijati, Jawa Barat. Dari sana, Iswahjoedi memperoleh Klein Militaire Brevet.


Iswahjoedi kemudian diangkat sebagai Komandan Lanud Maospati Madiun pada 1947. Iswahjoedi juga pernah menjalankan tugas perang bersama Abdul Halim Perdanakusuma. Namun, pesawat yang ditumpangi jatuh di Malaysia pada 14 Desember 1947.


15. Soekarni Kartodiwirjo

Soekarni Kartodiwirjo merupakan salah satu tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia. Soekarni lahir pada 14 Juli 1916 di Blitar, Jawa Timur.


Saat kecil, Soekarni menantang anak-anak Belanda untuk berkelahi. Anak-anak Belanda menyetujui ajakan Soekarni hingga terjadi tawuran besar.


Akibat tawuran itu, Soekarni dikeluarkan dari sekolah. Soekarni akhirnya pindah sekolah ke Yogyakarta, Jakarta, hingga Bandung. Pada era penjajahan Jepang, Soekarni bekerja di Sendenbu bersama dengan Moh Yamin.


Salah satu jasa Soekarni yang terkenal adalah peristiwa pengasingan Ir Soekarno dan Moh Hatta ke Rengasdengklok. Setelah didesak oleh golongan muda, Soekarno dan Hatta akhirnya setuju untuk mengumandangkan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Soekarni meninggal pada 7 Mei 1971 di Jakarta.